06 Oktober 2009
disaat harus memilih
Kita memang harus memilih salah satu dari pilihan itu. Dengan segala resiko dan akibat yang disebabkan dari pilihan yang kita pilih. Begitu juga dalam hal cinta. (cieee....mulai deh, curhat colongan...!!) kadang kita dihadapkan dalam satu pilihan yang sulit. Sulit banget malah. Dan apabila kita memilih salah satu nya, tentu akan ada akibat dari itu semua. Sakit hati yang jelas. Hmm.... seperti pengalamanku dulu, waktu aku duduk di kelas 2 SMA. Tapi dulu namanya SMU (sekolah menengah Uatas, he he he). Dan waktu itu aku sekolah di SMU Negeri 1 Boyolali.
Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang cewek, dalam sebuah acara kepramukaan. (he he he, keliatan kan kalo aku dulu aktipis pramuka. Sifatku kan mencerminkan Dasa Dharma Pramuka bangeeeet!!) Namanya Irma. Lengkapnya Irma Khusnawati. Sesuai dengan namanya, Irma = Ireng Manis... he he he. Anaknya manis, dan tomboy. Gak tahu kenapa dari dulu aku sangat suka cewek-cewek tomboy. Dia sekolah di SMK (SMEA), dan baru kelas 1. dari perkenalan itu aku bisa ngambil kesimpulan kalo aku suka sama dia. Dan dengan sedikit GR nya, aku juga tahu kalo dia juga sama aku.
Mulailah hari-hariku dipenuhin dengan kegiatan PDKT ke Irma. Agenda harianya yaitu pulang sekolah aku selalu sempetin mampir ke rumahnya hanya untuk melihat matanya yang indah dan memberikan senyum termanisku... he he he. Sumpah waktu SMU aku manis banget!!! Ha ha ha..jangan sirik!!!
Sebulan berjalan, dan sepertinya lancar-lancar saja, maka aku pun naik ke level 2. saatnya penembakan. Aku pengen menjadikan dia sebagai Pacarku. Dengan penuh percaya diri, aku nyatakan segenap perasaanku ke Irma. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Ternyata dengan berat hati, dia menolakku. (ooouuuuhhhhhhh!!!!!!)
Irma menolakku karena ternyata selama ini dia sudah mempunyai seorang kekasih. Aku pun terdiam. Di hatiku tetap yakin kalo sebenarnya Irma juga suka aku. Irma juga Sayang aku, dan Irma juga cinta aku. cieee...... Irma pun akhirnya mengakuinya. Irma mengakui kalo sebenarnya dia juga suka & sayang sama aku. Tetapi dia tidak mungkin memutus pacarnya begitu saja tanpa alasan. Hal itu yang membuat aku memberanikan diri untuk mengatakan, ”Aku tunggu sampai kamu putus”. Tapi Irma tidak berani menjanjikanya. Dia hanya minta waktu untuk menyelesaikan hubungannya dengan kekasihnya. Dan aku akan menunggu......
Detik berganti menit,menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan seterusnya....sampai 5 bulan aku menunggu, Irma belum juga putus dengan kekasihnya. Sementara aku disini tetap saja resah dan gelisah. Mulai muncul perasaan bosan, jenuh dan lain sebagainya. Intensitas datang ke rumahnya pun sudah jauh berkurang. Aku mulai melupakannya.....
Sampai suatu hari, aku dekat dengan seorang adik kelasku. Sebut saja namanya Sri. (hmm..jawa banget!!) anaknya tak kalah manis dengan Irma. Matanya lebih indah. Walau dia tidak tomboy, tapi aku mulai menyukainya. Inilah awal kesalahanku. Aku mulai mendekatinya, dan menunjukkan ketertarikanku pada Sri. Dan Sri pun menanggapinya dengan asik. Akupun terhanyut. Dan Irma pun terlupa. Hingga hari-hariku sekarang di isi oleh kehadiran Sri.
Sebulan PDKT sama Sri, membuat aku tidak nyaman. Aku ingin segera menyatakan cinta padanya. Maka pada hari yang sudah di tentukan, di suatu siang yang lumayan terik sepulang sekolah, aku nyatakan perasaanku kepada Sri. Dan seperti kebiasaan para ABG, dia pun minta waktu sehari untuk memikirkanya. Walaupun aku juga sudah tahu sebenernya jawaban yang akan di berikan, mungkin menurut para wanita supaya tidak terkesan ”murahan”....
Kesalahanku, aku tidak memikirkan kalo ternyata Irma masih memegang janjiku padanya yang, ”Aku akan menunggu sampai dia putus”. Lamanya proses putus itu, membuat aku jenuh dan berpaling pada Sri. Dan sekarang aku baru sadar, bahwa cinta butuh kesabaran. Catat itu kawan.....
Di saat aku sedang nunggu jawaban dari Sri, siang itu juga aku dapat surat dari Irma yang di titipin melalui seorang kurir. Klasik banget memang, masih surat-suratan. Maklumlah tahun 1997 belum ada Handphone buat SMS. Surat itu aku buka di jalan waktu aku naik angkot. Lihat amplop surat nya saja aku sudah tidak karuan rasanya. Betul juga, setelah aku buka, melalui surat itu, Irma memberi tahukan padaku bahwa dia sudah putus dengan pacarnya, dan siap menjalin hubungan denganku. Aku bengong.....nggak tahu sama sekali apa yang harus aku lakukan. Semua diluar perkiraanku. Wajah manis Sri tiba-tiba berubah jadi serem dalam bayanganku. Sampai turun dari angkot aku masih bingung mikirin antara Irma dan Sri.
Di rumah, seperti tertimbun beban ribuan kilogram, aku bingung sekali. Seperti yang aku katakan di awal tulisan, inilah Pilihan dalam cinta. Dimana aku harus menentukan pilihan, dan dimana aku mau tidak mau harus menyakiti salah satu diantara gadis manis itu. Aku tidak mau melukai irma yang udah berkorban mutusin cowoknya demi aku. dan aku tidak mau nyakitin Sri yang mungkin besok dia akan menerima cintaku. Mungkin hanya aku orangnya, yang berharap ditolak cintanya. Aku berdoa semoga Sri menolak cintaku. Tapi itu tidak mungkin. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata... sampai pagi menjelang, akhirnya aku putuskan sesuatu.
Di sekolahan, akupun males-malesan mengikuti pelajaran. Aku ingin segera pulang dan mengatakan hal yang berat ini kepada Sri. Dan akhirnya bel pulangpun berbunyi. Aku segera menemui Sri yang ternyata sedang nongkrong bareng temen-temen ceweknya. Aku segera mengajaknya untuk bicara. Tapi dia minta makan-makan dulu ama temen-temenya. Katanya merayakan hari jadian kita. Akupun tambah gusar.....dan aku bersama Sri dan temen-temennya akhirnya menuju warung Gado-gado untuk merayakan hari jadian aku dan Sri. Tapi mungkin nanti akan jadi hari Bubaran kita... (ooohhhhhhhh!!!)
Akhirnya waktu ngobrol buat kita berdua pun datang juga setelah teman-teman ceweknya pulang ke rumah masing-masing. Dengan segenap kekuatan hati, aku ungkapkan apa adanya ke Sri, kalo sebenarnya waktu aku nembak dia, aku sedang nunggu jawaban cinta dari seseorang. Dan ternyata di terimanya. Surat dari Irma aku tunjukin ke dia. Aku bingung mau berbuat apa lagi. Kemudian dengan perlahan aku bilang kepada Sri::
”Maaf Sri, Aku tetap memilih dia.........”
Sri memandangku tidak percaya dengan air mata yang siap tumpah membanjiri warung gado-gado itu. Saat itu aku merasa menjadi orang paling Jahat sedunia....ingin aku teriakkan :
”Bunuh Saja Aku!!!!!!!!”
lebaran tahun ini....
Hari Sabtu, tanggal 19 September 2009, jam 17.30, ibu masih aja sibuk nyiapin makanan untuk buka puasa. Kami hanya bertiga saat itu. Hanya aku, ibuku dan bapakku. Jadi sepi banget. Pembantuku udah pulang kampung.(emang rumahku bukan kampung ya?). trus kakak-kakakku pada lebaran di Rumah Mertua masing-masing. Keluargaku emang punya budaya, lebaran di rumah sini dua tahun sekali. Jadi tahun depan baru di penuhi oleh ponakan-ponakan. Sementara tahun ni aku Cuma sendirian nungguin bapak dan ibuku. Mudah-mudahan tahun depan udah ada yang nemenin satu lagi. He he he Amiin!!
Dari dapur, ibu masih aja nggrundel, “Badane kapan jane?? Bingung arep masak kupat saiki apa ngesuk bengi”. Tahu artinya nggak? Artinya gini ”Lebarane kapan sih? Bungung mau masak ketupat sekarang apa besok malem ajah”. Hal itu karena ternyata sampai maghrib berkumandang Pemerintah belum selesai sidang untk menentukan tanggal 1 Syawal. Kasihan ibuku, bingung hanya gara-gara kapan musti masak ketupat nya.
Setelah sholat Maghrib di Mushola, anak-anak kecil sekitar rumahku sudah pada kumpul dan ribut dengan kentongan dan lampu Obor nya, bersiap-siap untuk Takbir Keliling. Tapi skali lagi, sampai jam setengah tujuh, keputusan itu belum muncul juga. Tangan anak-anak kecil itu udah pada gatel pingin mukulin kenthongannya, ibuku juga udah gatel pengen masukin ketupat ke dalam panci.....
Dan akhirnya sekitar jam 18.45, atau jam 7 kurang dikit, pemerintah baru ketuk palu kalo Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1430 H jatuh pada tanggal 20 September 2009. Alhamdulillah. Aku lega, bapakku lega, apalagi ibuku... senyum manisnya terkembang dari bibirnya sambil masuk-masukin ketupat satu demi satu ke dalam panci. Kemudian dari Mushola dekat rumah sayub-sayub terdengar suara Takbir dan Takhmid berkumandang saling bersahutan. Meriah sekali. Dan aku terharu seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Hal itulah yang aku nganggep lebaran tahun ini lebih berkesan dari lebaran sebelum-sebelumnya.
Ada lagi yang membuat lebaran tahun ini lebih asik dai lebaran tahun lalu. Lebaran tahun ini adalah lebaran Fesbuk. (Facebook). Kenapa aku sebut demikian, karena lebaran tahun ini pas Fesbuk lagi heboh-hebohnya. Kayaknya hari gini kalo gak kenal fesbuk tuh ketinggalan banget. Dan aku juga gak tahu, kenapa aku juga ikut terbawa dalam arus itu. Tapi gak papa juga sih, abis emang asik sih. Sampai-sampai menunda sholat gara-gara FB, males tarawih karena tanggung lagi chating, dll. Kita, eh maksudnya aku lebih banyak buka Fesbuk daripada buka Al Quran. Astaghfirullah.... Maafkan mambaMu ini ya Allah....
Tapi ada hal lain yang aku patut bersyukur dengan adanya Fesbuk. Ternyata Fesbuk itu bener-bener bisa menyambung tali silaturahmi dengan temen-temen lama. Dari Fesbuk lah aku bisa kembali berkomunikasi dengan teman-teman waktu SMP, SMA, dan waktu kuliah. Bahkan aku dapet pacar juga...he he he....
Gara-gara Fesbuk juga, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan temen-temen waktu SMP dalam sebuah acara Kumpul bareng (reuni) di rumah Melly (tanpa guslaw). Lumayan banyak yang datang. Semua kebanyakan masih seperti yang dulu. Yang dulu kalem dan manis (kayak aku) masih tetep aja kalem, tapi aku jadi tambah manis. Ha ha ha... yang lain juga tetep tambah keren-keren. Banyak juga yang udah jadi orang, (dulu kan masih anak-anak). Pokoknya acara itu heboh deh. Jadi rugi banget kalo gak dateng. Setelah acara kumpul-kumpul di rumah Melly, acara di lanjut makan-makan di saung Bu Mansur. Wow, tambah heboh aja, karena Yoni, Zen, Gunawan, Husen dll tak henti-hentinya bikin kami tertawa....ha ha ha
Yang jelas, lebaran tahun ini makin tambah berkesan karena kalau lebaran tahun lalu aku masih Jomblo, tapi tahun ini aku sudah punya kekasih yang sebentar lagi akan aku ajak menikah.... Amiin... ai lof yu ful.....
Lebaran tahun ini lebih berkesan dari lebaran-lebaran sebelumnya.....
(setidaknya buatku)
*adi.darwies@gmail.com*
31 Juli 2009
belajar dari penjual es teh
Seorang laki-laki tengah duduk sendirian di pojok alun-alun kota Purwokerto yang nyaman. Di tangannya sebuah buku kecil, dan dia tampak sedang asik menikmati isinya. Rambutnya hitam agak pendek. Berkacamata minus, dan kalo tersenyum manis. Manis banget malah.... Udah bisa di tebak, siapa lagi orang manis itu kalo bukan Lulut Yekti Adi. Nick name nya Adi Darwies. Ya itu aku sendiri.he he he(Manis temenan mbok???)
Sore itu aku emang males banget untuk langsung pulang kost ataupun seperti hari-hari biasanya, nongkrong di warnet. Sore itu adem. Gak begitu panas dan tidak juga mendung. Jadi aku pengen banget melewatkan sore ini dengan duduk-duduk di Alun-alun. Walaupun Cuma sendirian. Aku emang Jomblo manis...he he he(iklan-Red). Seperti biasa, alun-alun kota purwokerto kalo sore hari cerah seperti ini mendadak jadi Playgroup & TK terluas di dunia. Alias jadi tempat momong. Ada bapak yang lagi ”momong” anaknya, ibu yang lagi ”momong” bapaknya, ada anak yang lagi ”momong” neneknya, dan ada nenek yang lagi momong selingkuhanya. (lho!!)
Aku suka banget mengamati kegiatan mereka semua yang ada di alun-alun. Di sudut utara, bawah pohon beringin ada seorang pemuda yang tengah susah payah merayu gebetanya. Si cewek tampak cuek aja, walo aku juga tahu, cewek nya sebenernya juga mau. Cuma entah kenapa semua cewek musti berlagak jual mahal??. Ada anak-anak SMA yang bergerombol sambil nyanyi-nyanyi dengan fals nya. Ada juga anak SMA yang nyamar jadi anak kuliahan. Biar dapet cewek kuliahan maksudnya. Hal itu mengingatkanku pada seorang teman. Dulu waktu masih SMA aku punya teman yang suka banget bergaya ala Mahasiswa. Jadi kalo pulang sekolah, dia suka ganti kaos dan celana jeans, biar kalo di jalan orang-orang ngeliatnya dia adalan anak kuliahan. Terobsesi sekali dia jadi seorang mahasiswa, tapi apa daya umur belum nyampe. Namanya Tono. Suatu hari Tono pengen mengunjungi kakaknya yang seorang mahasiswa di UNS (Universitas Neng Solo). Dari Boyolali, diapun naek bis. Seperti biasa, dia pun bergaya ala mahasiswa. Kaos berkerah, celana jins dan sepatu kets.
Tono duduk di kursi tengah yang sebelahnya kosong. Eh sesampainya di daerah Pabelan,depan Kampus UMS (Universitas Meh Solo)he he he, tiba-tiba ada cewek cantik duduk di sebelahnya. Tono langsung deg-gean. Di liriknya cewek itu. ”ohhh...mahasiswi yang cantik” pikirnya. Dia pun segera mengatur strategi untuk berkenalan. Seperti biasa, untuk membuka pembicaraan, Tono pura-pura menanyakan ”jam berapa sekarang” (klasik banget...). tapi kebetulan ceweknya itu type yang gaul, akhirnya pun mereka ngobrol. Cewek itu ternyata mahasiswi UMS. Dan Tono pun mengaku mahasiswa UNS. Semua informasi dari kakaknya tentang perkuliahan, Tono memang menguasai. Dari mulai jurusannya, fakultasnya, tempat kost nya dia tahu. Itu lebih meyakinkan cewek itu kalo Tono memang seorang Mahasiswa. Sampai suatu saat di tengah obrolan, cewek itu bertanya ” Semester kemaren IP nya berapa??”. nah loh, Tono terdiam. Dia pernah dengar tentang IP,tahu kalo IP itu seperti nilai. Tapi dia gak paham IP itu apa. Tono jadi berpikir, mungkin IP sama aja rata-rata dalam nilai rapot nya. Dia berpikir kalo bilang IP nya 8, tar di kira kepinteran, tapi kalo bilang IP nya 6, dia gengsi dong. Maka dia jawab aja kalo IP nya 7. dan si cewekpun memandangnya dengan aneh....Tono bingung dan wajahnyapun memerah (DZIGG!!!)
Di sini, di alun-alun ini aku masih sendiri. Merenungi hari-hari sepi, aku tanpamu...he he he(malah nyanyi). Aku masih baca buku Novel berjudul Test Pack yang aku pinjem dari temenku. Dan aku juga masih mengamati orang-orang di sekitarku. Aku lihat seorang penjual Es Teh mendatangiku. Dia masih remaja. Berumur sekitar 12 tahun. Karena haus, akupun beli es teh itu. Sambil tersenyum, dia kasih Es Teh nya ke aku, dan aku kasih 2 lembar ribuan ke dia. Tiba-tiba dia bilang ”kebanyakan itu mas, seribu saja”. Dan aku pun tersentak kaget, aku terima kembali ribuan itu, penjual Es itupun berlalu.
Aku kaget karena di jaman sulit seperti ini, masih ada anak se jujur dia. Masih ada anak yang menolak rejeki yang bukan hak nya. Hal itu yang benar-benar membuat aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku malu karena aku kurang bersyukur. Kadang kita selalu merasa kurang dengan apa yang udah kita dapet. Bahkan kadang tanpa malu kita meminta rejeki yang bukan hak kita. Kita selalu ngerasa gaji kita terlalu kecil, tapi kita tidak pernah melihat dan berkaca pada orang-orang yang jauh di bawah kita.
Suatu sore di sudut kota Purwokerto,...
Seorang Lulut Yekti Adi belajar hidup dari seorang penjual es teh....
21 Juli 2009
Penyakitku…
Menurut buku yang pernah aku baca, lupa sendiri adalah penyakit yang secara fisiknya adalah “kerusakan saraf-saraf otak yang berfungsi sebagai penyimpan data”. Bisa di ibaratkan, kalo Hard disc sebuah komputer sudah agak terganggu maka waktu kita memanggil program atau data akan lama. Aku juga pernah baca, entah bener atau tidak, kalo lupa itu sendiri disebabkan kita sering berbuat dosa. Terutama sering bohong. Nah loh.....dari situ aku jadi sadar, mungkin karna dosa ku yang sudah segunung, makanya aku jadi pelupa...hmmm...semoga Allah masih mau mengampuni. Amiin.... Tapi bener juga sih, kalo sering berbuat dosa dan sering bohong emang jadi pelupa dan cenderung tidak pinter. (mo ngomong goblok ga enak ajah). Itu terbukti kalo para Hafidz (penghapal Al-Quran) itu lebih sedikit bohong dan dosa nya, jadi mereka lebih mudah mengingat semuanya. Tapi semua hanya Allah yang tahu.
Cerita tentang Lupa, banyak sekali yang bikin aku senyum-senyum sendiri kalo mengingatnya. Kejadianya baru tadi pagi. Seperti biasa, tiap Minggu aku pulang ke kampung halamanku tercinta. Banjarnegara. Kebetulan kemaren baru saja long weekend. Minggu dan Senin libur. Pagi tadi aku bangun jam 04.30. Setelah sholat Subuh, cuci muka dan gosok gigi, aku pun nyiapin tas ku. Setelah aku rasa siap semua, dan tak lupa minum susu cokelat buatan Ibu ku, akupun mengeluarkan motor ”soulmate” ku. Sambil berpamitan ke ibu dan bapak, ibu tanya, ”Masih ada yang ketinggalan nggak? HP? Chas? Jam tangan? Celana dalam?” . aku diam dan mengingat semuanya. Aku rasa udah semuanya. Setelah aku cium tangan Ibu & Bapakku, akupun mulai meninggalkan mereka menuju Purwokerto. Pagi itu dingin. Dingin banget malah. Tapi demi tugas dan kewajiban, aku brangkat tepat jam 05.00. setelah jalan kira-kira 5 menit, sampai di depan pom bensin, aku baru ngerasa ada keanehan. Pandanganku gak jelas. Dan ternyata ”Masya Allah...” kaca mataku ketinggalan.he he he, akupun balik lagi ke rumah buat ngambil kaca mata.
Aneh ya, kacamata yang sangat krusial aja bisa lupa. Aku pernah berpikir kalo anggota tubuhku tidak ”built in” atau misalkan anggota tubuhku bisa di copotin kayaknya tiap hari ada aja anggota tubuhku yang ketinggalan. He he he, bayangin aja, misalkan ”perabot laki-laki” ku ketinggalan di Banjarnegara, padahal aku dah sampai di Purwokerto, pas mau pipis baru ketahuan. Ha ha ha....eh pas aku ambil ke Banjarnegara, ternyata udah lagi buat mainan kucing.....
Udah lebih dari 5 buah flash disc ku ilang di warnet dan 3 buah handphone ketinggalan di mana-mana. Semua akibat kecerobohanku dan penyakit lupa ku. Tapi ada untungnya juga, kalo aku punya masalah yang berat, aku akan dengan mudah melupakannya....atau kalo di tagih hutang, bilang aja aku lupa.. he he he
Oh iya, Ada satu cerita lagi. Tapi aku lupa ceritanya..he he he
17 Juli 2009
sebuah renungan (dari blog seorang teman)
Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?".
Si bapak tua menjawab, "Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya".
05 Juli 2009
antara tangis dan tawa
Aku tidak ingin membahas masalah Wiro Sableng itu.di sini. Aku pengen bicara masalah duka dan suka adalah satu bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan. Bahagia dan sedih sangat tipis batasnya. Kadang sekarang kita tertawa terbahak-bahak, tapi sedetik kemudian kita menangis tersedu-sedu. Itulah sebabnya Rosullullah SAW mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam mengekspresikan baik itu suka maupun duka. Kita juga diajarkan untuk selalu ikhlas, karna Duka yang kita terima belum tentu itu buruk buat kita. Semua hal yang terjadi di dunia ini tidak ada satupun yang kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur dengan amat sangat sempurna. Jadi, semua yang terjadi, kita harus Ikhlas dan bisa bersyukur, karena bisa saja kesedihan, dalam waktu singkat berubah jadi kebahagiaan. Seperti ceritaku ini....
Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Sederhana banget malah. Hidup jauh dari peradaban kota, di desa yang permai nan damai. Bapakku hanya seorang Rektor di Sekolah Dasar, (he he he) dan ibuku juga Dosen Sekolah Dasar. Mereka berdua type orang-orang pengabdi sejati pada negara. Bahkan ketika aku SD, aku tahu bapakku dengan gaji yang cuma ratusan ribu, tapi tetep semangat dalam mengajar murid-muridnya.
Seperti anak desa lainya, mainanku waktu SD juga sederhana. Gak ada Play Station, gak ada Video Game, gak ada game online. Adanya cuma main di pinggir kali, di sawah-sawah nyari belut, engklek, egrang, layangan dll. (he he he kampungan banget ya??)
Dulu kegiatanku sepulang sekolah SD (waktu aku sekitar kelas 4) adalah “ngarit”. Atau bahasa Indonesianya itu nyari rumput buat makan ternak. Waktu itu aku punya 4 ekor kambing. 1 cowok dan 3 cewek. Yang cowok amat gagah. Kalo berbentuk manusia, bisa di ibaratkan dengan Tora Sudiro. Dengan jenggotnya yang keren, dan badanya yang tegap. Yang cewek juga cantik-cantik. Mieke Amalia aja lewat. Ha ha ha.
Kambing yang jantan, si Tora Sudiro itu punya napsu sex yang kelewat besar untuk ukuran seekor kambing. Awalnya kambing bapakku cuma dua. Si Tora ama ceweknya yang satu itu. Dari perkawinannya, lahirlah 2 anak cewek. Tapi setelah besar, si dua anak itu dikawin juga. Buset dah.!! Gak bisa aku bayangin. Untung di dunia kambing gak ada Komnas HAK (Hak Asasi Kambing).
Suatu hari, Kambing yang cewek hamil akibat perbuatan Ayahnya (si Tora itu) itu. Aku seneng banget demi melihat kambingku hamil. Setelah beberapa bulan, di pagi-pagi buta dari gua hantu (lho!!) kambing itu melahirkan juga. Dan cewek lagi anaknya. Aku seneng banget. Anaknya berwarna hitam pekat. Kayak aku. he he he, Cuma kalo aku itu hitam manies!!. Dan anak kambing itu aku beri nama Mei. Karna lahirnya bulan Mei.
Hari-hariku jadi lebih menyenangkan karna ada Mei. Kalo pulang sekolah, aku ajak Mei jalan-jalan ke kebun. Sambil aku nyari rumput buat kambing-kambing yang lain, Mei dengan setianya nungguin aku. Dia suka banget lari-lari berjingkrak-jingkrak kesana kemari.
Aku punya tetangga yang juga punya kambing kecil seusia Mei. Namanya Anto. (itu nama orangnya, bukan nama kambingnya). Dan nama kambingnya bernama Marcell. He he he, gak ding. Tapi anggep aja gitu. Anto juga suka banget ngajak Marcell jalan-jalan.
Suatu siang, sepulang sekolah, aku dan Anto ketemu di jalan dan menceritakan kehebatan kambing kita masing-masing. Saking serunya kita berdebat hingga kitapun hampir berantem. Tapi gak jadi berantem karna akhirnya kita buat kesepakatan. Besok siang, kita berdua akan menandingkan antara Mei dan Marcell. Lomba lari, itulah yang kita pilih. Sebagai Alat taruhan adalah kelereng. Anto punya Kelereng sebanyak 1 toples. Dan apabila Mei bisa ngalahin Marcell, maka Kelereng itu jadi milikku. Wow keren.
Sesampainya di rumah, tanpa ganti baju, aku ke kandang. Aku liat Mei lagi asyik becanda ama papanya. Tora Sudiro.ha ha ha. Kayaknya sih lagi maen tebak-tebakan. Begini tebakanya :” Daun apa yang bolong tengahnya??” tanya Mei pada bokapnya. Bokapnya diem mikir. Trus geleng-gelang kepala. Mei pun tersenyum sombong, dan memberi tahu jawabanya, ” DAUNat”, he he he. Karena merasa menang, Mei pun melemparkan tebakan lanjutan : ” Trus kalo Sofa yang bolong tengahnya apa yah?”. Ayahnya kembali geleng-geleng kepala gak ngerti. Si Mei semakin sombong lagi, dengan bangganya dia menjawab, ”SOFAsti Donat lah”. Ayahnya bengong. Tapi Mei malah melontarkan tebakan lagi, ” kalo Katak yang bolong tengahnya apa yah?”. Ayahnya yang emang bego, cuma bisa bengong dan geleng-geleng kepala. ”Jawabannya, KATAKan sekali lagi DONAT!!” Seakan tak mau kecolongan, Mei ngasih pertanyaan pamungkasnya, ”Orang apa yang bolong tengahnya?” Tanpa memberi kesempatan ayahnya berpikir, Mei langsung bilang, ”ORANG dibilang donat, juga!!”. Setelah itu dia ngeloyor pergi sambil tertawa penuh kemenangan. He he he.
Aku senyum-senyum aja melihat ayah dan anak saling becanda. Aku deketin Mei dan aku ajak dia ke sebelah rumah yang ada padang rumputnya. Di situ aku ajari dia berlari-lari untuk mempersiapkan lomba melawan si Marcell, kambing kecilnya si Anto besok. Jadi hari ini istilahnya Gradi Bersih nya. Hmmm aya-aya wae....
Sampe sore hari, ba’da Ashar aku baru pulang. Ibuku ngomel-ngomel gak karuan karna aku belum ganti baju sekolah udah mainan ama kambing. Tapi aku cuek aja, aku langsung ambil anduk dan gayung berisi sabun dan sikat gigi, aku berlari ke sungai Serayu untuk mandi. Kebetulan rumahku deket dengan sungai Serayu yang bening itu.
Malemnya aku gak bisa tidur, membayangkan moment besok. Kalo Mei menang, aku dapet kelereng. Jadi gak perlu ngumpulin duit lama-lama buat beli kelereng. Satu toples kelereng, bayangin itu kawan! Nggak sabar rasanya nunggu esok hari.
Di sekolah, konsentrasiku buyar. Pak Rahmadi yang sedang ngajar pelajaran Pendidikan Agama Islam, tidak aku gubris sama sekali. Pikiranku hanya tertuju pada kambing kecilku. Sampe akhirnya bel pulang sekolahpun berbunyi. Tanpa memperdulikan temen-temenku, aku langsung lari pulang. Hasrat menandingkan Mei amat sangat kuat di hatiku. Aku amat sangat yakin Mei akan memenangkan pertandingan ini, dan aku mendapatkan se toples kelereng. Aku yakin itu karena aku tahu Marcell itu kambing cemen. Gak begitu pintar berlari.
Sampe di rumah, ternyata bapak sudah ada di rumah. Dan sedang ada 2 orang tamu. Perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak. Benar saja, ketika aku pergi ke kandang, aku lihat 2 orang itu sedang mengeluarkan 5 ekor kambingku dari kandangnya. Aku tanyakan itu ke ibu. Dengan tenang ibu mengatakan kalo kambingnya mau di jual semuanya. Meledaklah tangisku. Aku tidak mau tahu alasannya yang jelas aku sedih banget. Kecewa sekali. Aku malu sama Anto. Aku tidak jadi punya setoples kelereng!!! Akupun masuk kamar dan mengunci pintu. Di dalem kamar aku nangis sejadi-jadinya. Aku sedih harus berpisah dengan Mei, tora sudiro, dan kambing lainya. Aku nangis sampai suaraku habis.
Aku tidak tahu sudah berapa jam aku mengurung diri di dalam kamar. Hatiku sedih banget menangisi kambingku yang dijual secara semena-mena sama bapakku. Kenapa bapak tidak konfirmasi dulu ke aku, selaku pemberi makan mereka?. Lama aku dikamar, aku merasa lapar juga. Tapi mau keluar males banget. Gengsi dong. Tapi tiba-tiba dengan lembut ibuku mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil aku. Penuh rayuan beliau menyuruh aku membukakan pintu. Karena sayang ibuku, akhirnya aku buka pintunya. Ibuku langsung memelukku. Di bisikkannnya di telingaku, ” Liat tuh! di depan ada apa?”. Aku bingung. Nggak tahu maksud ibuku. Trus aku digandeng tangannya menuju teras rumah.
Aku kaget, di depan rumah telah berdiri dengan gagah sebuah sepeda BMX warna merah. Aku melihat ibu, dan ibu senyum dengan indahnya. Aku lihat bapak juga senyum-senyum. Akupun segera memeluk bapakku. Aku seneng banget. Gembira bukan kepalang. Aku segera mencoba sepeda baruku. Sambil tertawa riang. Dan Mei pun terlupa.
Alangkah tipisnya batas antara sedih dan bahagia....
05 Juni 2009
si putri
Yang nggak masuk akal, suatu hari di depan pintu kamarku tergeletak ”suntikan” bekas Refil Printer.(dataprint). Demi melihat benda seperti itu, mbah yem langsung mencak-mencak.
”siapa pake Narkoba di kost ini??? ayo jawab?? Narkoba itu di larang agama? Apa lagi maen suntik-suntikan segala!!” teriak mbah yem membabi buta. Aku sama iPul yang sedang di dalam kamar pun keluar melihat apa yang terjadi. Ternyata Mbah Yem tengah mencak-mencak sambil mengacung-acungkan suntikan bekas isi ulang printer. Demi melihat itu, aku dan iPul tidak bisa menahan tawa. Kami pun tertawa terbahak-bahak. Mana ada sih, narkoba pake suntikan sebesar itu??warna hitam pula...he he he he
Begitulah mbah Yem, biar suka ngomel dan cerewet, sesungguhnya dia amat sangat baik hati. Kalo dia ada makanan lebih, pasti kita di kasih. Sisanya maksudnya…ha ha ha ha…(ampun mbah….)
Di kost mbah Yem, kita berdua berkenalan dengan si Putri. Sebuah sepeda motor Suzuki A100, ntah tahun brapa. Mungkin 80an. He he he, seumuranku. Bahkan mungkin lebih tua. (satu hal yang sama denganku,dia juga belum kawin!!!)ha ha ha
Si Putri berwarna hitam legam. Bener-bener tidak sesuai dengan namanya. Shokbreaker belakangnya sudah tidak ada per nya sama sekali. Kalo naik si Putri, siap-siap aja sakit perut. Slebor depan juga entah dimana sehingga memperlihatkan dengan jelas ban depan yang sudah gundul. Jadi apa bila jalan di jalanan yang becek, maka airnya muncrat-muncrat sampe ke muka.
Temenku Nanang Budianto yang memberi julukan motor itu ”si Putri”. Kenapa si Putri???, karena eh karena motor itu mempunyai kecepatan maksimal 40 km / jam. Itu pun kalo dengan kecepatan maksimal sudah bergetar semua, seakan-akan spear part nya mau mencelat semua. Karena jalannya yang pelan seperti ”putri solo’, maka Nanang memberi nama motor itu ”si Putri”. Dan kitapun sepakat dengan nama itu. Saking pelannya jalan si Putri, pernah suatu hari aku dan iPul yang memang kuliah satu jurusan, (Seni Rupa & Desain UNNES), waktu itu ada kuliah pagi. Karena nggak ada motor lain di situ, maka kita berdua sepakat bawa si Putri. Dari mulai awal saja, si Putri sudah nampak males-malesan mengantar kami kuliah. Kami harus bercucuran keringat untuk nyetaternya. Tapi tak lama kemudian akhirnya bisa jalan juga. Tapi ya itu. Pelaaaan banget. Sesampainya di kampus, betapa kagetnya kami berdua, ternyata kuliah sudah selesai setengah jam yang lalu.he he he Kami juga nggak habis pikir, betapa lambannya si Putri.
Rumah mbah Yem tempat kami indekost ada di daerah Sampangan Semarang. Sekitar 7 Km dari kampusku. UNNES tersayang. Tapi dari arah Sampangan ke kampus, jalannya naek-naek ke puncak gunung, dan tinggi-tinggi sekali.ha ha ha... Melewati jalan menanjak sepanjang 5 km. Kalo naek motor normal atau naek angkot Cuma memerlukan waktu paling lama 20 menit. Tapi dengan si Putri, terbukti 2 jam kita baru nyampe. Cape deh....
Si Putri sebenarnya adalah milik dari temen kosku, namanya Doni. Tapi nggak tahu kenapa si Doni sendiri enggan banget menggunakan si Putri. Dia lebih suka kemana-mana naek mobil Suzuki Katana nya. (ya jelas lah!!). Jadi si Putri cuma tergeletak lesu di sudut garasi mengharap ada yang menjamahnya. He he he kayak jablay ajah. Karena aku dan iPul nggak ada sarana transportasi lain, maka si Putri walaupun sering merepotkan, tetep kami manfaatkan dengan sepenuh jiwa dan raga.
Malem itu aku dan iPul ada acara di kampus. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah pinjem kendaraan ‘normal’ kesana-kesini nggak dapet, akhirnya aku dan iPul sepakat memaksa siPutri untuk mengantar kami. Sebenarnya kami juga nggak tega melihat siPutri, apa lagi putri harus berjalan menanjak 5 km dengan membawa kami berdua. Tapi karena kita sudah terpaksa banget akhirnya mau tidak mau hanya siPutri lah yang bisa menolong kita.
Aku yang di depan, dan iPul membonceng dengan mesranya. He he he. Kami berjalan pelan-pelan bagaikan sangat menikmati perjalanan. Padahal emang si Putri yang nggak bisa cepet. Ketika jalan mulai naik di daerah Dewi Sartika, kami berdua berdo’a bersama.
”ya Allah kuatkanlah si putri menghadapi cobaan ini.....Amiin..”
Pelan-pelan kami dan si Putri mulai merayap naik. iPul tanpa henti-hentinya berdoa, dan sesekali memberi semangat padaku. Sampai di perumahan ”Puri Sartika” satu tahap sudah terlewati. Masih ada tanjakan lagi, dan lebih curam kemiringanya.
Ketika tanjakan tinggal menyisakan 100 meter lagi, tepatnya di daerah Trangkil, ternyata apa yang aku takutkan terjadi juga. Si Putri menunjukan tanda-tanda mau ngambek. Aku paksa menarik gas lagi, tapi si putri benar-benar mati. Kemudian sunyi. Jalan di daerah Trangkil memang sepi. Apa lagi waktu sudah sekitar jam 9 malam. Kami berdua bingung, haruskah melanjutkan perjalanan yang tinggal sa’iprit, ataukah kembali pulang ke bawah dengan di ”gelinding” kan. Akhirnya kami sepakat untuk menuntun si Putri sampe dengan jalan yang datar. Karena di dekat kampus memang ada bengkel. Aku nuntun di depan, dan iPul mendorong di belakang. Karena jalan menanjak yang lumayan curam, kamipun merasa bagaikan menyeret si gendut ”preti asmara”. Pegel, capek, ngilu, lemes, haus bercampur jadi satu. Kamipun bergantian. Gantian aku yang mendorongnya, dan iPul yang menuntun si Putri.
Dengan bermandikan keringat, sampe juga kami berdua di jalan yang datar. Nafas kami benar-benar tersengal-sengal. Apalagi iPul, karna dia perokok berat. Karena siPutri tidak punya standard buat penyangganya, maka kami biarkan siPutri tergeletak dengan manja di pinggir jalan. karena saking capeknya, serta mata yang berkunang-kunang, maka kami rebahan di jalan yang sepi itu. Beberapa motor dari arah bawah lewat, sempat melihat kami, tapi terus melanjutkan lagi perjalanan. Kita berdua cuek aja, karena memang masih capek banget.
Kita nggak nyadar kalo ke”cuek”an kami membawa mala petaka buat kami. Tanpa kami sadari, dari arah kampus, ada banyak sekali orang datang menuju tempat kami. Heboh dan rame banget. Kami pun bingung ada apa gerangan.
”mana korban tabrak lari nya?” salah satu orang yang menghampiri kami bicara seperti itu.
Mereka pun pada ngerubungi kami yang duduk sambil kebingungan.
Rupanya tadi orang yang melihat kami berbaring di jalan, serta lihat posisi si Putri yang tanpa standard mengira kami adalah korban kecelakaan, dan memanggil orang-orang kampung. Setelah tahu kalo ternyata kami bukan korban tabrak lari, mereka merasa tertipu, mereka rame-rame menghujat kami. Menganggap kami penipu. Bahkan kami sempet mau di massa..(wuih...serem banget) untung saja kemudian muncul orang-orang kampung yang merupakan teman-teman kami dari arah kampus, merekapun menjelaskan semuanya.
Kemudian orang-orang itu membubarkan diri. Sambil terus ngomel-ngomel seperti mbah Yem.
Aku dan iPul pun saling berpandangan, kemudian mata kami bersamaan melihat si Putri yang di pandangan kami berdua seakan-akan tengah tersenyum puas karena berhasil ngerjain kita.
Semua gara-raga si Putri.....